9/27/13

Pascanonton Produk Iklan Pascabayar

“Jadi orang gede menyenangkan, tapi susah dijalanin.” Begitulah sebaris kalimat yang diucapkan oleh seorang anak kecil di sebuah iklan operator GSM selular. Iklan yang cukup menarik, yang akhir-akhir ini sedang rajin beredar di hampir seluruh stasiun televisi tanah air.

Namun ada kalimat penutup iklan tersebut yang agak menggelitik pendengaran. Kalimat yang juga sekaligus menjadi slogan dari produk yang diiklankan, “Indi+, layanan prabayar, kenyamanan paskabayar.” Begitulah suara anak kecil mengakhiri iklan yang dibuat dalam beberapa versi tersebut.

Sayangnya, ada salah pengucapan di situ. Pengucapan paska dalam frasa pascabayar sudah jelas tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia. Pengucapan dalam bahasa Indonesia sejak dahulu kita tahu bahwa huruf ‘c’ diucapkan ‘ce’ bukan jadi ‘ka’ seperti bahasa Inggris.

Sampe bonyok kita tidak akan dapat menemukan kata paska di KBBI Daring. Jika kita memaksa untuk mencarinya, akan keluar kata Paskah. Kita akan menemukan kata ‘pasca-’ (bermakna sesudah) sebagai sebuah bentuk terikat tidak bisa berdiri sendiri sebagai sebuah kata, sehingga penggunaannya harus digabung & disambung, contohnya ya pascabayar, pascapanen, pascasarjana, dll.

Pascanonton iklan selular itu, bagi yang awam dengan masalah tata bahasa, tentu akan menganggap bahwa kata ‘pasca’ memang dibaca ‘paska’ atau lebih parah lagi bahwa ‘paska’ akan dianggap sebagai kata dan tulisan yang benar dan tidak ada ‘pasca’! Ini memang agak memprihatinkan, atau jangan-jangan yang bikin iklan itu memang bukan orang Indonesia? [B\W]

Sumber: Bahasa, please!

9/3/13

Zakat Maal & Zakat Mall

“Ibu-ibu, coba hitung lebih banyak mana zakat maal atau zakat mall-nya?” seru Ustad Wijayanto dalam sebuah acara Ramadan di sebuah stasiun TV. “Ini sekedar sindiran bahwa manusia selama ini lebih banyak membawa uang ketika pergi ke mall, ketimbang digunakan untuk membayar zakat maal-nya,” lanjut ustad lulusan S2 dari Pakistan tersebut.

Kata-kata zakat maal dan “zakat” mall itu sungguh terus menempel di hati. Sindiran yang sungguh relevan dengan kehidupan masyarakat perkotaan sekarang ini. Apalagi di bulan suci yang penuh berkah, zakat maal menjadi penting setelah umat Islam memenuhi kewajibannya berzakat fitrah.

Dikutip dari Portalinfaq: kita mengenal zakat sebagai salah satu dari lima rukun Islam yang di dalam Al Qur’an sering kali dikaitkan dengan shalat. Zakat berasal dari bentukan kata zaka yang berarti ‘suci’, ‘baik’, ‘berkah’, ‘tumbuh’, dan ‘berkembang’. Menurut terminologi syariat, zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula. Kaitan antara makna secara bahasa dan istilah ini berkaitan erat sekali, yaitu bahwa setiap harta yang sudah dikeluarkan zakatnya akan menjadi suci, bersih, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang (At-Taubah:103 dan Ar-Rum:39).

Pada dasarnya ada dua macam zakat, yaitu Zakat Maal atau zakat atas harta kekayaan; dan Zakat Fitrah yaitu zakat untuk membersihkan diri yang dibayarkan pada bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri.

Sedangkan menurut PKPU: zakat maal atau zakat harta, adalah zakat yang wajib dibayarkan setiap muslimin yang memiliki harta yang sudah sampai nishab-nya selama satu tahun kepemilikan. Zakat maal terdiri dari berbagai macam, ada zakat emas- perak, zakat perniagaan, zakat pertanian, zakat binatang ternak, zakat madu dan hasil hewan. Setiap jenis zakat ini memiliki nishab sendiri-sendiri, seperti zakat emas nishabnya 85 gram, dan besar zakatnya adalah 2,5%, dan seterusnya.

Sudah jelas pentingnya kaum muslim untuk mengeluarkan zakat maal-nya, selain untuk kebersihan diri, juga untuk menjaga silaturahim, dan menjaga situasi keadilan sosial agar tidak ada jurang pemisah yang lebar antar berbagai status sosial di dalam masyarakat.

Bagaimana dengan “zakat” mall? Hari-hari sebelum memasuki Ramadhan, apalagi nanti sebelum Lebaran, biasanya mall-mall di mana saja terutama di Jakarta akan semakin meningkat jumlah pengunjungnya, dan akan makin banyak orang-orang yang mulai "menzakati" mall dan pusat-pusat perbelanjaan.

Memang tak ada salahnya jika kita menuju mall guna mencari keperluan menyambut hari raya, namun seperti apa yang dikatakan ustad Wijayanto di atas, hendaknya kita juga mulai membawa uang lebih banyak untuk zakat maal ketimbang “zakat“ mall, karena selain bermanfaat untuk meningkatkan kualitas spiritualitas diri, juga bisa bermanfaat untuk banyak orang. [b\w]

Sumber: bloggerbekasi.com

8/30/13

Demokrasi Tirani sang Kapitalis

3 April 2006 (benwal.multiply.com)


Jika bicara demokrasi, orang seluruh dunia pasti menunjuk Amerika Serikat sebagai negara yang selalu menyuarakan faham ini, dan selalu bertindak atas nama demokrasi. Tapi apa yang terjadi ketika penerapan demokrasi itu menghasilkan tokoh atau pihak yang tak sejalan dengan aksi kapitalismenya?


Demokrasi yang tak dikehendaki

Kita jalan-jalan sebentar ke Palestina. Pemilihan umum paling demokratis dalam sejarah Palestina ini dimenangkan oleh partai HAMAS. Sebuah partai berbasis perjuangan rakyat yang dulu memang agak radikal, dan hal itulah yang dijadikan alasan negara penjaga demokrasi dunia Amerika Serikat, untuk tidak menyetujui kemenangannya. Bahkan berusaha menggagalkan kemenangan tersebut dengan berbagai ancaman penangguhan bantuan. Padahal pemilu tersebut diawasi berbagai lembaga internasional, termasuk mantan presiden AS Jimmy Carter, yang ikut mengawasi langsung jalannya pemilihan, dan menyatakan bahwa pesta demokrasi tersebut sungguh pemilu yang bersih.

Tengok agak ke timur sedikit. Salah satu negara penghasil minyak terbesar dunia, Iran. Negara itu juga baru saja melaksanakan pemilihan presiden dengan sangat demokratis. Namun apa tanggapan si Paman Sam? Mahmoud Ahmadinejad, presiden berumur 49 tahun yang hidupnya sederhana itu, berusaha digulingkan dengan berbagai fitnah serta cercaan dengan harapan dapat menggoyangkan kedudukannya. Hingga AS akhirnya melakukan upaya terakhir dengan meneriakkan isu nuklir seperti yang dilakukannya terhadap Irak.

Tak hanya di Timur Tengah. Pemilihan umum yang demokratis juga terjadi Bolivia, sebuah negara miskin di Amerika Selatan tempat terbunuhnya tokoh revolusi Che Guevara oleh CIA pada tahun 1967. Rakyatnya baru saja memiliki presiden pertama yang berasal dari suku asli Indian. Evo Morales yang dipilih oleh sekitar 54% rakyat Bolivia, dan merelakan setengah gajinya sebagai presiden untuk dialokasikan guna kepentingan rakyat itu, menjadi sasaran kecaman Amerika Serikat karena menolak bekerjasama memenuhi keinginan sang negara adidaya.


Demokrasi ala Amerika?

Katanya demokrasi, tapi kenapa tidak setuju ketika ada pihak yang memenangkan pemilihan dengan demokratis? Itulah Amerika Serikat, sebuah negara yang mengaku penganut demokrasi sejati, padahal tak lebih dari sebuah pemerintahan tirani yang selalu memaksakan kepentingannya ke seluruh dunia. Hebatnya lagi, pemerintah AS juga berhasil mengajak negara-negara barat yang lain untuk bersama-sama mengupayakan keberhasilan dari tindakannya.

Jika demokrasi dipaksakan untuk diterapkan di sebuah negara, kalau perlu dengan melakukan agresi seperti yang terjadi pada Irak dan Afghanistan, apa itu namanya tindakan yang demokratis? Masih pantaskah Amerika Serikat dijadikan kiblat demokrasi dunia? Jika masih ada istilah demokrasi ala Amerika, mungkin harus diubah menjadi demokrasi tirani ala Amerika. (b\w)

8/21/13

Poligami dari sudut pandang istri kedua

“Selama ini masalah poligami selalu dilihat dari ‘kacamata’ istri pertama, coba lihat masalah ini dari ‘kacamata’ istri kedua, belum tentu istri kedua tak lebih baik dari istri pertama,” itulah yang dikatakan Poetri Soehendro, seorang penyiar i-radio ketika dalam siaranya bersama Rafiq tadi pagi (12/12/2006) yang untuk kesekian kalinya membahas masalah poligami ini. “Sekarang ini kaum perempuan selalu menghujat para pelaku poligami, padahal bukan tak mungkin suatu saat dia sendiri jadi istri kedua,” sambungnya lagi.

Luar biasa landasan berpikir sang penyiar wanita kawakan tersebut. Pendapatnya tentang poligami begitu terbuka, bahkan menyentuh bahasan yang tidak kita pikirkan sebelumnya. Sangat benar apa yang dikatakannya, bahwa sekarang ini banyak sekali para wanita yang menghujat poligami selalu dari sudut pandang istri pertama. Bagaimana rasanya hati yang teriris-iris ketika tahu diduakan, bagaimana malunya jika orang lain tahu suaminya ternyata punya yang lain. Namun, apakah terpikir bagaimana terisrisnya hati sang pelaku, dalam hal ini sang istri kedua, ketika tahu dirinya dijadikan ajang hujatan sesama kaumnya?

“Ah, gua ga bakal pernah mau punya suami yang udah punya istri!” teriak seorang teman perempuan. Oh ya? Ati-ati lho kalo bicara, never say never kata orang Jawa bilang.

Sayang penulis tidak punya rujukan pengalaman dari sisi istri kedua. Tulisan ini pun tidak juga bermaksud melakukan pembahasan terhadap masalah poligami, karena jika ingin lebih jelas tentang itu, silakan main-main saja ke sini www.polygamy.com. Tapi ulasan di sini hanya ingin sejenak keluar dari batas-batas emosi yang ada.

Ngomongin emosi, ada sebuah statement bijak dari seorang ustadzah terkenal dalam sebuah wawancara di salah satu TV swasta, “Semakin kita menghujat dan mencaci maki A’a Gym, maka dosa-dosa yang ditanggung dia justru akan beralih kepada yang menghujat. Jadi sebaiknya kita doakan saja agar keluarganya bisa tetap berbahagia dengan kejadian ini, lebih berpahala daripada marah-marah yang akan menambah dosa.”

Penting juga ya jika dalam masalah apa pun, hendaknya kita juga melihat emosi dari sisi yang lain. Seperti yang mbak Poetri bilang tadi pagi, “Kita harus tahu bahwa ada orang lain yang keadaannya tidak seperti yang kita alami, tidak semua orang punya kondisi hidup yang sama.” Mungkin sudah saatnya kita melihat suatu masalah tak hanya selalu dari satu sisi, agar kita bisa lebih menghargai hidup yang singkat ini. [b\w]

*tulisan ini pernah diposting pada 12 Desember 2006 di benwal.multiply.com yang sudah musnah...

8/3/13

Makna Lain Speedometer, Penting Bagi Kehidupan Pengemudi Kendaraan Bermotor

Siapa pun yang pernah mengemudikan kendaran bermotor, pasti tahu apa itu speedometer. Sebuah alat pengukur kecepatan kendaraan yang berjalan di darat (entah apakah alat ukur kecepatan di speedboat juga bernama speedometer atau bukan) yang berfungsi agar pengemudi, atau bahkan juga penumpang, mengetahui kecepatan kendaraan yang dikemudikan atau ditumpanginya.

Bentuk speedometer sempat berevolusi dari yang manual menggunakan jarum seperti jam, menjadi model digital yang menggunakan angka besar di bagian dashboard. Belakangan bentuk speedometer akhirnya kembali lagi menggunakan jarum, hanya saja jarum dan angka-angka di dalamnya tidak lagi menggunakan bahan yang dapat bersinar ketika gelap (fluorescence), tapi sudah langsung bercahaya baik siang maupun malam.

Nah, lalu apa menariknya alat bernama speedometer ini? Ternyata jika kita melihat kehidupan manusia di dunia fana ini seperti beroperasinya sebuah speedometer. Hidup ini seperti speedometer yang mulai dari nol, hingga bisa mencapai kecepatan maksimal, namun pasti akan kembali lagi ke angka nol.

Speedometer beroperasi dari nol, perlahan-lahan ia akan naik ke angka berikutnya, 20, 40, 60, 80… seperti halnya kehidupan kita yang pasti pernah mengalami kesulitan, analoginya adalah jika kendaraan melewati jalur yang macet, angka itu akan turun, lalu naik lagi, hingga kendaraan itu menemukan jalan yang sepi atau bebas hambatan/tol. Dalam kehidupan nyata jika kita menemukan jalan keluar dari berbagai masalah kehidupan atau kesuksesan, maka jarum speedometer akan mencapai angka di atas seratus, hingga akhirnya perlahan turun, kembali ke angka nol dengan bertahap.

Begitu pula dengan hidup kita yang fluktuatif, jika umur panjang maka suatu saat pasti akan mengalami nasib yang baik, sebelum bertambah uzur dan mengalami penurunan hingga akhirnya kembali ke angka nol. Tapi perlu diingat bahwa kembalinya jarum ke angka nol bisa secara tiba-tiba. Maaf, jika kendaraan itu tiba-tiba mengalami kecelakaan dalam kecepatan tinggi, maka itu artinya speedometer akan langsung tidak bisa beroperasi, jarumnya langsung melesat ke angka nol tanpa tahapan hitungan mundur.

Manusia hidup memang harus selalu siap untuk kembali ke angka nol. Siap-siap jika ada kecelakaan, atau bahkan juga siap-siap jika kehabisan “bensin” dan kita tidak menemukan tempat di mana bisa membelinya. Tak akan ada speedometer yang jarumnya terus menerus ada di angka 100 km/jam tanpa pernah turun. Jarum kehidupan kita pasti akan kembali ke angka nol, hanya caranya yang bermacam-macam. Jika kita berdoa mohon umur panjang, jangan lupa juga untuk berdoa agar kita kembali ke angka nol dengan baik.

Sumber: Kompasiana

7/14/13

Warga Bekasi yang Sering Dianggap "Orang Jakarta"

Saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2012 lalu, tim dari pasangan Joko Widodo dan Basuki “Ahok” Purnama, yang sekarang sudah jadi Gubernur & Wakil Gubernur, sempat memasang iklan kampanye mereka di jalan ke arah gerbang keluar tol Bekasi Barat dari arah Jakarta. Pengendara yang hendak keluar tol Bekasi Barat yang biasanya disuguhi iklan rokok mild terkenal, saat itu digantikan dengan iklan kampanye baju kotak-kotak tersebut.

Entah apa alasan mereka memasang iklan kampanye di situ, di tempat yang memang strategis tapi sudah jelas-jelas bukan merupakan wilayah DKI Jakarta. Siapa yang hendak mereka jadikan sasaran? Apakah warga DKI yang sering berkunjung ke Kota Bekasi, atau para supir truk Dinas Kebersihan DKI yang akan membuang sampah ke arah Bantargebang, atau berminat jadi Cawalkot Bekasi jika gagal jadi gubernur di DKI?

Semoga pemasangan kampanye tersebut bukan karena mengira wilayah Kota Bekasi ini masih termasuk wilayah Jakarta. Fenomena ini bukan sekadar wacana, banyak yang mengira kota Bekasi itu sama dengan Jakarta. Beberapa kerabat yang tinggal di Jogja dan Solo waktu itu sempat bertanya kepada penulis, memilih siapa dalam Pilgub DKI Jakarta. Meskipun mereka semua sudah pernah bertandang ke rumah penulis di kota Bekasi, tetap saja mereka mengira kota ini masuk wilayah DKI.

Lain lagi dengan kerabat atau pun teman-teman dari Bogor. Meskipun mereka sudah tahu bahwa Bekasi itu termasuk wilayah Jawa Barat, namun kerap kali dalam menyebut arah ke Bekasi mereka selalu bilang “ke Jakarta”. Apalagi ketika belum ada jalan lingkar luar sambungan dari Cikunir ke Kampung Rambutan, sehingga semua perjalanan lewat tol dari Bogor arah Bekasi harus keluar dulu ke Jakarta, tepatnya di Cawang (UKI), sebelum masuk lagi ke tol arah Cikampek.

Bukan salah mereka jika mengira seperti itu. Sejak dahulu memang kota Bekasi telah menjadi daerah penyangga ibukota yang paling mepet dengan Jakarta. Juga merupakan salah satu daerah tempat tinggal asli masyarakat Betawi, ditambah sebagian besar warga Bekasi mencari segenggam berlian di Jakarta. Perilaku serta kebiasaan selama beraktivitas di ibukota mau tak mau ikut terbawa ketika kembali pulang ke Bekasi. Jadilah kota Bekasi seperti fotokopiannya Jakarta. Jadi tak heran jika status “kewarganegaraan” warga Bekasi terkena bias metropolitan Jakarta.

Namun kini warga Bekasi tampak semakin punya rasa percaya diri dengan keberadaan status domisilinya. Keberadaan komunitas lokal seperti contohnya Blogger Bekasi ini semakin membangkitkan semangat pengakuan akan status ke-Bekasi-an kita semua. Melihat perkembangan kota Bekasi yang semakin metropolis dan mandiri, bukan tak mungkin akan semakin banyak warga Bekasi yang tidak tergantung lagi dengan DKI, sehingga makin mantab dan bangga untuk mengaku sebagai warga Bekasi. Semoga. [b\w]

Sumber: bloggerbekasi.com

7/7/13

Aset Bangsa yang "Dipakai" Jiran!


Senang dan bangga sekaligus sedih ketika membaca tulisan di harian Kompas, Sabtu 29 April 2006, halaman 16. Lagi-lagi seorang anak bangsa berprestasi di ajang kompetisi ilmiah dunia, setelah sebelumnya kita menerima berita tentang kemenangan siswa SMA dan bahkan juga siswa SMP Indonesia yang berhasil meraih dua medali emas, satu perak, dan tiga perunggu dalam Olimpiade Fisika Asia ke-7 di Almaty, Kazakhtan, 28 April 2006, hingga berhasil menempatkan posisi Indonesia di peringkat kedua setelah China.

Irwandi Jaswir (36), seorang peneliti muda kelahiran Medan yang besar di Bukittinggi ini berhasil mendapatkan award tertinggi kelas dunia untuk temuan inovatifnya yang berjudul Rapid Method for Detection of Non-Halal Substances in Food, dan juga mendapat medali perak untuk temuannya yang lain yaitu Novel Rapid Analytical Techniques for Fats and Oils Industry.

Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1993 ini berhasil menemukan metode bagaimana dengan cepat dapat mengetahui kandungan lemak hewani pada berbagai makanan dengan aman (karena tanpa bahan kimia), dan dengan biaya murah. Temuan itulah yang membawanya memenangkan anugerah tertinggi pada lomba rekacipta dan inovasi tingkat dunia The 34th International Exhibition of Inventions, New Techniques and Products of Geneva, di Jenewa-Swiss, pada 5-9 April 2006 lalu.

Namun sayangnya, bapak dua anak yang beristrikan seorang dokter gigi ini membawa nama negeri jiran Malaysia dalam lomba ilmiah dunia tersebut. Karena Irwandi ternyata adalah seorang dosen di International Islamic University Malaysia, sehingga Kementrian Sains Teknologi dan Inovasi Malaysia dengan mudahnya mengucurkan dana penelitian yang memang di negara jiran itu tidak sulit didapat dari pemerintahnya yang memang menaruh perhatian besar terhadap hal-hal seperti itu.

Masalah kucuran dana untuk penelitian inilah yang tampaknya membuat Irwandi, yang juga mendapatkan PhD-nya berkat twinning programme setelah ia menyelesaikan S2 di Universitas Pertanian Malaysia, tetap bertahan menjadi dosen di sana. Bahkan ia pun kini sudah diincar oleh Japan Society for Promotion of Science untuk melakukan penelitian dengan dana penelitian tak terbatas!

Bagaimana jika dia waktu itu buru-buru kembali ke Indonesia dan menunggu pencairan dana penelitian yang tak kunjung turun, karena melewati sistem birokrasi yang ribet dan korup? Mungkin Irwandi hanya bisa jadi seorang dosen yang bakalan mati penasaran, karena otak encernya tidak dihargai oleh negaranya sendiri untuk membuat penelitian yang menghasilkan penemuan brilian yang dapat berguna bagi orang banyak.

Sudah selayaknya warga negara seperti Irwandi dan adik-adik pemenang olimpiade ilmiah itulah yang pantas disebut aset bangsa. Bukannya orang yang menebar eksploitasi tubuh wanita dengan berbagai goyang ngebor, ngecor, atau apa pun, yang saat ini justru dianggap sebagai aset bangsa. Tampaknya bukan hanya pemerintah yang tak peduli akan potensi kaum Irwandi, tapi juga masyarakat kita yang lebih senang mendukung pertikaian politik, dan juga hiburan seronok yang jelas-jelas makin merendahkan martabat tak hanya wanita, tapi juga martabat bangsa yang sedang terpuruk ini. Apa kita akan terus membiarkan Irwandi-Irwandi lain yang kepintarannya justru dimanfaatkan negeri jiran? (b\w)

*tulisan ini diposting pd tanggal 2 Mei 2006 di benwal.multiply.com

BACA JUGA

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...