“Selama ini masalah poligami selalu dilihat dari ‘kacamata’ istri pertama, coba lihat masalah ini dari ‘kacamata’ istri kedua, belum tentu istri kedua tak lebih baik dari istri pertama,” itulah yang dikatakan Poetri Soehendro, seorang penyiar i-radio ketika dalam siaranya bersama Rafiq tadi pagi (12/12/2006) yang untuk kesekian kalinya membahas masalah poligami ini. “Sekarang ini kaum perempuan selalu menghujat para pelaku poligami, padahal bukan tak mungkin suatu saat dia sendiri jadi istri kedua,” sambungnya lagi.
Luar biasa landasan berpikir sang penyiar wanita kawakan tersebut. Pendapatnya tentang poligami begitu terbuka, bahkan menyentuh bahasan yang tidak kita pikirkan sebelumnya. Sangat benar apa yang dikatakannya, bahwa sekarang ini banyak sekali para wanita yang menghujat poligami selalu dari sudut pandang istri pertama. Bagaimana rasanya hati yang teriris-iris ketika tahu diduakan, bagaimana malunya jika orang lain tahu suaminya ternyata punya yang lain. Namun, apakah terpikir bagaimana terisrisnya hati sang pelaku, dalam hal ini sang istri kedua, ketika tahu dirinya dijadikan ajang hujatan sesama kaumnya?
“Ah, gua ga bakal pernah mau punya suami yang udah punya istri!” teriak seorang teman perempuan. Oh ya? Ati-ati lho kalo bicara, never say never kata orang Jawa bilang.
Sayang penulis tidak punya rujukan pengalaman dari sisi istri kedua. Tulisan ini pun tidak juga bermaksud melakukan pembahasan terhadap masalah poligami, karena jika ingin lebih jelas tentang itu, silakan main-main saja ke sini www.polygamy.com. Tapi ulasan di sini hanya ingin sejenak keluar dari batas-batas emosi yang ada.
Ngomongin emosi, ada sebuah statement bijak dari seorang ustadzah terkenal dalam sebuah wawancara di salah satu TV swasta, “Semakin kita menghujat dan mencaci maki A’a Gym, maka dosa-dosa yang ditanggung dia justru akan beralih kepada yang menghujat. Jadi sebaiknya kita doakan saja agar keluarganya bisa tetap berbahagia dengan kejadian ini, lebih berpahala daripada marah-marah yang akan menambah dosa.”
Penting juga ya jika dalam masalah apa pun, hendaknya kita juga melihat emosi dari sisi yang lain. Seperti yang mbak Poetri bilang tadi pagi, “Kita harus tahu bahwa ada orang lain yang keadaannya tidak seperti yang kita alami, tidak semua orang punya kondisi hidup yang sama.” Mungkin sudah saatnya kita melihat suatu masalah tak hanya selalu dari satu sisi, agar kita bisa lebih menghargai hidup yang singkat ini. [b\w]
*tulisan ini pernah diposting pada 12 Desember 2006 di benwal.multiply.com yang sudah musnah...
8/21/13
8/3/13
Makna Lain Speedometer, Penting Bagi Kehidupan Pengemudi Kendaraan Bermotor
Siapa pun yang pernah mengemudikan kendaran bermotor, pasti tahu apa itu speedometer. Sebuah alat pengukur kecepatan kendaraan yang berjalan di darat (entah apakah alat ukur kecepatan di speedboat juga bernama speedometer
atau bukan) yang berfungsi agar pengemudi, atau bahkan juga penumpang,
mengetahui kecepatan kendaraan yang dikemudikan atau ditumpanginya.
Bentuk speedometer sempat berevolusi dari yang manual menggunakan jarum seperti jam, menjadi model digital yang menggunakan angka besar di bagian dashboard. Belakangan bentuk speedometer akhirnya kembali lagi menggunakan jarum, hanya saja jarum dan angka-angka di dalamnya tidak lagi menggunakan bahan yang dapat bersinar ketika gelap (fluorescence), tapi sudah langsung bercahaya baik siang maupun malam.
Nah, lalu apa menariknya alat bernama speedometer ini? Ternyata jika kita melihat kehidupan manusia di dunia fana ini seperti beroperasinya sebuah speedometer. Hidup ini seperti speedometer yang mulai dari nol, hingga bisa mencapai kecepatan maksimal, namun pasti akan kembali lagi ke angka nol.
Speedometer
beroperasi dari nol, perlahan-lahan ia akan naik ke angka berikutnya,
20, 40, 60, 80… seperti halnya kehidupan kita yang pasti pernah
mengalami kesulitan, analoginya adalah jika kendaraan melewati jalur
yang macet, angka itu akan turun, lalu naik lagi, hingga kendaraan itu
menemukan jalan yang sepi atau bebas hambatan/tol. Dalam kehidupan nyata
jika kita menemukan jalan keluar dari berbagai masalah kehidupan atau
kesuksesan, maka jarum speedometer akan mencapai angka di atas seratus, hingga akhirnya perlahan turun, kembali ke angka nol dengan bertahap.
Begitu pula dengan hidup kita yang fluktuatif, jika
umur panjang maka suatu saat pasti akan mengalami nasib yang baik,
sebelum bertambah uzur dan mengalami penurunan hingga akhirnya kembali
ke angka nol. Tapi perlu diingat bahwa kembalinya jarum ke angka nol
bisa secara tiba-tiba. Maaf, jika kendaraan itu tiba-tiba mengalami
kecelakaan dalam kecepatan tinggi, maka itu artinya speedometer akan langsung tidak bisa beroperasi, jarumnya langsung melesat ke angka nol tanpa tahapan hitungan mundur.
Manusia hidup memang harus selalu siap untuk
kembali ke angka nol. Siap-siap jika ada kecelakaan, atau bahkan juga
siap-siap jika kehabisan “bensin” dan kita tidak menemukan tempat di
mana bisa membelinya. Tak akan ada speedometer yang jarumnya
terus menerus ada di angka 100 km/jam tanpa pernah turun. Jarum
kehidupan kita pasti akan kembali ke angka nol, hanya caranya yang
bermacam-macam. Jika kita berdoa mohon umur panjang, jangan lupa juga
untuk berdoa agar kita kembali ke angka nol dengan baik.
Sumber: Kompasiana
7/14/13
Warga Bekasi yang Sering Dianggap "Orang Jakarta"
Saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2012 lalu, tim dari
pasangan Joko Widodo dan Basuki “Ahok” Purnama, yang sekarang sudah jadi
Gubernur & Wakil Gubernur, sempat memasang iklan kampanye mereka di
jalan ke arah gerbang keluar tol Bekasi Barat dari arah Jakarta.
Pengendara yang hendak keluar tol Bekasi Barat yang biasanya disuguhi
iklan rokok mild terkenal, saat itu digantikan dengan iklan kampanye
baju kotak-kotak tersebut.
Entah apa alasan mereka memasang iklan kampanye di situ, di tempat yang memang strategis tapi sudah jelas-jelas bukan merupakan wilayah DKI Jakarta. Siapa yang hendak mereka jadikan sasaran? Apakah warga DKI yang sering berkunjung ke Kota Bekasi, atau para supir truk Dinas Kebersihan DKI yang akan membuang sampah ke arah Bantargebang, atau berminat jadi Cawalkot Bekasi jika gagal jadi gubernur di DKI?
Semoga pemasangan kampanye tersebut bukan karena mengira wilayah Kota Bekasi ini masih termasuk wilayah Jakarta. Fenomena ini bukan sekadar wacana, banyak yang mengira kota Bekasi itu sama dengan Jakarta. Beberapa kerabat yang tinggal di Jogja dan Solo waktu itu sempat bertanya kepada penulis, memilih siapa dalam Pilgub DKI Jakarta. Meskipun mereka semua sudah pernah bertandang ke rumah penulis di kota Bekasi, tetap saja mereka mengira kota ini masuk wilayah DKI.
Lain lagi dengan kerabat atau pun teman-teman dari Bogor. Meskipun mereka sudah tahu bahwa Bekasi itu termasuk wilayah Jawa Barat, namun kerap kali dalam menyebut arah ke Bekasi mereka selalu bilang “ke Jakarta”. Apalagi ketika belum ada jalan lingkar luar sambungan dari Cikunir ke Kampung Rambutan, sehingga semua perjalanan lewat tol dari Bogor arah Bekasi harus keluar dulu ke Jakarta, tepatnya di Cawang (UKI), sebelum masuk lagi ke tol arah Cikampek.
Bukan salah mereka jika mengira seperti itu. Sejak dahulu memang kota Bekasi telah menjadi daerah penyangga ibukota yang paling mepet dengan Jakarta. Juga merupakan salah satu daerah tempat tinggal asli masyarakat Betawi, ditambah sebagian besar warga Bekasi mencari segenggam berlian di Jakarta. Perilaku serta kebiasaan selama beraktivitas di ibukota mau tak mau ikut terbawa ketika kembali pulang ke Bekasi. Jadilah kota Bekasi seperti fotokopiannya Jakarta. Jadi tak heran jika status “kewarganegaraan” warga Bekasi terkena bias metropolitan Jakarta.
Namun kini warga Bekasi tampak semakin punya rasa percaya diri dengan keberadaan status domisilinya. Keberadaan komunitas lokal seperti contohnya Blogger Bekasi ini semakin membangkitkan semangat pengakuan akan status ke-Bekasi-an kita semua. Melihat perkembangan kota Bekasi yang semakin metropolis dan mandiri, bukan tak mungkin akan semakin banyak warga Bekasi yang tidak tergantung lagi dengan DKI, sehingga makin mantab dan bangga untuk mengaku sebagai warga Bekasi. Semoga. [b\w]
Sumber: bloggerbekasi.com
Entah apa alasan mereka memasang iklan kampanye di situ, di tempat yang memang strategis tapi sudah jelas-jelas bukan merupakan wilayah DKI Jakarta. Siapa yang hendak mereka jadikan sasaran? Apakah warga DKI yang sering berkunjung ke Kota Bekasi, atau para supir truk Dinas Kebersihan DKI yang akan membuang sampah ke arah Bantargebang, atau berminat jadi Cawalkot Bekasi jika gagal jadi gubernur di DKI?
Semoga pemasangan kampanye tersebut bukan karena mengira wilayah Kota Bekasi ini masih termasuk wilayah Jakarta. Fenomena ini bukan sekadar wacana, banyak yang mengira kota Bekasi itu sama dengan Jakarta. Beberapa kerabat yang tinggal di Jogja dan Solo waktu itu sempat bertanya kepada penulis, memilih siapa dalam Pilgub DKI Jakarta. Meskipun mereka semua sudah pernah bertandang ke rumah penulis di kota Bekasi, tetap saja mereka mengira kota ini masuk wilayah DKI.
Lain lagi dengan kerabat atau pun teman-teman dari Bogor. Meskipun mereka sudah tahu bahwa Bekasi itu termasuk wilayah Jawa Barat, namun kerap kali dalam menyebut arah ke Bekasi mereka selalu bilang “ke Jakarta”. Apalagi ketika belum ada jalan lingkar luar sambungan dari Cikunir ke Kampung Rambutan, sehingga semua perjalanan lewat tol dari Bogor arah Bekasi harus keluar dulu ke Jakarta, tepatnya di Cawang (UKI), sebelum masuk lagi ke tol arah Cikampek.
Bukan salah mereka jika mengira seperti itu. Sejak dahulu memang kota Bekasi telah menjadi daerah penyangga ibukota yang paling mepet dengan Jakarta. Juga merupakan salah satu daerah tempat tinggal asli masyarakat Betawi, ditambah sebagian besar warga Bekasi mencari segenggam berlian di Jakarta. Perilaku serta kebiasaan selama beraktivitas di ibukota mau tak mau ikut terbawa ketika kembali pulang ke Bekasi. Jadilah kota Bekasi seperti fotokopiannya Jakarta. Jadi tak heran jika status “kewarganegaraan” warga Bekasi terkena bias metropolitan Jakarta.
Namun kini warga Bekasi tampak semakin punya rasa percaya diri dengan keberadaan status domisilinya. Keberadaan komunitas lokal seperti contohnya Blogger Bekasi ini semakin membangkitkan semangat pengakuan akan status ke-Bekasi-an kita semua. Melihat perkembangan kota Bekasi yang semakin metropolis dan mandiri, bukan tak mungkin akan semakin banyak warga Bekasi yang tidak tergantung lagi dengan DKI, sehingga makin mantab dan bangga untuk mengaku sebagai warga Bekasi. Semoga. [b\w]
Sumber: bloggerbekasi.com
7/7/13
Aset Bangsa yang "Dipakai" Jiran!
Senang dan bangga sekaligus sedih ketika membaca tulisan
di harian Kompas, Sabtu 29 April 2006, halaman 16. Lagi-lagi seorang anak
bangsa berprestasi di ajang kompetisi ilmiah dunia, setelah sebelumnya kita
menerima berita tentang kemenangan siswa SMA dan bahkan juga siswa SMP
Indonesia yang berhasil meraih dua medali emas, satu perak, dan tiga perunggu
dalam Olimpiade Fisika Asia ke-7 di Almaty,
Kazakhtan, 28 April 2006, hingga berhasil menempatkan posisi Indonesia di peringkat kedua setelah
China.
Irwandi Jaswir (36), seorang peneliti muda kelahiran Medan yang besar
di Bukittinggi ini berhasil mendapatkan award tertinggi kelas dunia
untuk temuan inovatifnya yang berjudul Rapid Method for Detection of
Non-Halal Substances in Food, dan juga mendapat medali perak untuk
temuannya yang lain yaitu Novel Rapid Analytical Techniques for Fats and
Oils Industry.
Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1993 ini berhasil menemukan metode bagaimana dengan cepat dapat mengetahui kandungan lemak hewani pada berbagai makanan dengan aman (karena tanpa bahan kimia), dan dengan biaya murah. Temuan itulah yang membawanya memenangkan anugerah tertinggi pada lomba rekacipta dan inovasi tingkat dunia The 34th International Exhibition of Inventions, New Techniques and Products of Geneva, di Jenewa-Swiss, pada 5-9 April 2006 lalu.
Namun sayangnya, bapak dua anak yang beristrikan seorang dokter gigi ini membawa nama negeri jiran Malaysia dalam lomba ilmiah dunia tersebut. Karena Irwandi ternyata adalah seorang dosen di International Islamic University Malaysia, sehingga Kementrian Sains Teknologi dan Inovasi Malaysia dengan mudahnya mengucurkan dana penelitian yang memang di negara jiran itu tidak sulit didapat dari pemerintahnya yang memang menaruh perhatian besar terhadap hal-hal seperti itu.
Masalah kucuran dana untuk penelitian inilah yang tampaknya membuat Irwandi, yang juga mendapatkan PhD-nya berkat twinning programme setelah ia menyelesaikan S2 di Universitas Pertanian Malaysia, tetap bertahan menjadi dosen di sana. Bahkan ia pun kini sudah diincar oleh Japan Society for Promotion of Science untuk melakukan penelitian dengan dana penelitian tak terbatas!
Bagaimana jika dia waktu itu buru-buru kembali ke Indonesia dan menunggu pencairan dana penelitian yang tak kunjung turun, karena melewati sistem birokrasi yang ribet dan korup? Mungkin Irwandi hanya bisa jadi seorang dosen yang bakalan mati penasaran, karena otak encernya tidak dihargai oleh negaranya sendiri untuk membuat penelitian yang menghasilkan penemuan brilian yang dapat berguna bagi orang banyak.
Sudah selayaknya warga negara seperti Irwandi dan adik-adik pemenang olimpiade ilmiah itulah yang pantas disebut aset bangsa. Bukannya orang yang menebar eksploitasi tubuh wanita dengan berbagai goyang ngebor, ngecor, atau apa pun, yang saat ini justru dianggap sebagai aset bangsa. Tampaknya bukan hanya pemerintah yang tak peduli akan potensi kaum Irwandi, tapi juga masyarakat kita yang lebih senang mendukung pertikaian politik, dan juga hiburan seronok yang jelas-jelas makin merendahkan martabat tak hanya wanita, tapi juga martabat bangsa yang sedang terpuruk ini. Apa kita akan terus membiarkan Irwandi-Irwandi lain yang kepintarannya justru dimanfaatkan negeri jiran? (b\w)
*tulisan ini diposting pd tanggal 2 Mei 2006 di benwal.multiply.com
6/2/13
Taman Kota yang Menyejukkan Hati Warga
Bertepatan dengan hari
lahirnya Pancasila 1 Juni 2013, Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Kementrian PU mengadakan
acara Aksi Peduli Air bertema “Membangun Generasi Peduli Air” yang dihadiri
oleh Dirjen SDA Mohammad Hasan, pelajar SMP di Jakarta, serta beberapa
komunitas peduli air dan juga komunitas blogger. Acara digelar di sebuah taman kota
yang asri dengan pohon-pohon besar dan danau buatan unik di tengahnya.
Taman tersebut
dinamakan Taman Cattleya, yang diambil dari nama salah satu jenis bunga Anggrek.
Taman yang pembangunannya diprakarsai oleh Gerakan Perempuan Peduli Lingkungan ini diresmikan
pada 1 Desember 2007. Taman Cattleya terletak persis di pojok perempatan sibuk
kawasan Simpang Susun Tomang Jakarta Barat. Seremonial Aksi Peduli Air pada hari
Sabtu itu diadakan di selasar taman atau halaman parkir yang cukup lapang.
Taman yang biasa juga
disebut Taman Tomang ini, tampak tak terlalu banyak diketahui warga. Hal ini
terlihat dari jumlah orang yang berlalu-lalang di dalam taman, meski hari itu
adalah akhir pekan yang biasanya digunakan untuk berjalan-jalan. Padahal
kesejukan udara sangat terasa ketika kita berjalan di dalamnya, sangat kontras
dengan kondisi lalu lintas di perempatan Tomang.
Berbeda dengan kondisi
taman lain di Jakarta seperti misalnya Taman Menteng, Taman Situ Lembang, Taman
Suropati di Jakarta Pusat, dan Taman Ayodya di Jakarta Selatan, Taman Cattleya
ini jauh lebih luas. Dari lokasinya pun sangat berbeda, karena
taman ini benar-benar terletak di tengah-tengah pusat kesibukan metropolitan,
di antara ruas jalan raya dan jalan tol yang selalu dilalui bis dan truk-truk
besar.
Sudah selayaknya memang
setiap kota di Indonesia memiliki taman indah yang juga berguna untuk jadi area
resapan air. Taman yang bisa dikunjungi warga tanpa dipungut biaya. Taman yang
dapat memberi keteduhan batin dan secara tidak langsung bisa meredam emosi
warga kota. Bahkan bukan tak mungkin dengan banyaknya taman yang sejuk, dapat
menyejukkan hati warganya, hingga bisa meredam konflik antar mereka. [b\w]
5/12/13
Jika Pengelola Kompleks Jadi Pengelola Kota
Beton-beton “pasak bumi” berukuran raksasa tersebut dengan pelan tapi
pasti dihujamkan ke dalam tanah di sepanjang sungai yang dikenal oleh
warga dengan nama Kali Bekasi. Setelah beton-beton tersebut berjajar
rapi masuk belasan meter di bawah tanah, bagian atasnya diurug dengan
tanah dan kembali ditanami rumput, sehingga tidak terlihat jika
sebenarnya terdapat barisan beton yang angkuh yang bertugas menahan
derasnya aliran air Kali Bekasi itu. Bahkan sekarang ini di sekitar
beton tersebut dilepas kijang tutul jinak yang setiap sore menjadi
hiburan gratis penduduk sekitar.
Kejadian di atas itu berlangsung sudah sekitar dua tahun silam. Meski “penanaman” beton tersebut menciptakan suara berisik sepanjang hari, namun ketika semua sudah tertanam menimbulkan ketenangan hati bagi warga yang tinggal di sepanjang aliran kali yang sudah dibeton itu tadi. Mengingat banjir yang lumayan merepotkan pernah terjadi di tahun 2004 akibat jebolnya tanggul penahan aliran kali tersebut.
Rupanya pada awal tahun 2013 ini banjir kembali menggenangi perumahan tersebut meskipun bukan disebabkan oleh jebolnya tanggul yang sudah diperkuat itu tadi, tapi dari tanggul di kompleks lain yang sepertinya memang belum dibuat dari beton “pasak bumi” seperti itu. Hari Jumat tanggal 18 Januari 2013 lalu adalah puncak dari meluapnya air Kali Bekasi yang kali ini memakan waktu yang cukup lama untuk kembali surut, lebih lama dari kejadian tahun 2004.
Limpahan air Kali Bekasi yang sempat menggenangi sebagian jalan utama di kompleks tersebut ternyata membuat beberapa bagian jalan yang dibangun dari conblock tersebut mengalami kerusakan. Meski kerusakan tidak parah, namun pihak pengembang kompleks tersebut sepertinya tidak ingin mengecewakan para pengendara yang sering melewati jalan di situ. Sehari setelah peristiwa tersebut, sudah terlihat beberapa pekerja mulai membongkar susunan conblock untuk kembali dipasang dengan rapi sehingga tidak turun naik.
Meskipun jalan tersebut sudah dihibahkan dari pengembang kepada Pemkot Bekasi, tapi pihak pengembang tidak tinggal diam begitu saja menunggu jalan jadi semakin rusak. Memang tindakan seperti inilah yang diperlukan warga. Tindakan cepat pengelola kompleks itu memang sudah dilakukannya sejak dahulu terutama yang berhubungan dengan kepentingan umum, dan hal ini patut diberi apresiasi.
Memang tidak bisa membandingkan pengelolaan sebuah kota dengan pengelolaan sebuah kompleks perumahan. Tapi mungkin jika pengelolaan kota kita serahkan kepada para pengelola kompleks perumahan yang tanggap seperti contoh di atas, bisa jadi warga kota akan merasa lebih nyaman ketimbang dikelola oleh para politisi.
Sumber: bloggerbekasi.com
Tgl. posting: Senin, 21 Januari 2013
Kejadian di atas itu berlangsung sudah sekitar dua tahun silam. Meski “penanaman” beton tersebut menciptakan suara berisik sepanjang hari, namun ketika semua sudah tertanam menimbulkan ketenangan hati bagi warga yang tinggal di sepanjang aliran kali yang sudah dibeton itu tadi. Mengingat banjir yang lumayan merepotkan pernah terjadi di tahun 2004 akibat jebolnya tanggul penahan aliran kali tersebut.
Rupanya pada awal tahun 2013 ini banjir kembali menggenangi perumahan tersebut meskipun bukan disebabkan oleh jebolnya tanggul yang sudah diperkuat itu tadi, tapi dari tanggul di kompleks lain yang sepertinya memang belum dibuat dari beton “pasak bumi” seperti itu. Hari Jumat tanggal 18 Januari 2013 lalu adalah puncak dari meluapnya air Kali Bekasi yang kali ini memakan waktu yang cukup lama untuk kembali surut, lebih lama dari kejadian tahun 2004.
Limpahan air Kali Bekasi yang sempat menggenangi sebagian jalan utama di kompleks tersebut ternyata membuat beberapa bagian jalan yang dibangun dari conblock tersebut mengalami kerusakan. Meski kerusakan tidak parah, namun pihak pengembang kompleks tersebut sepertinya tidak ingin mengecewakan para pengendara yang sering melewati jalan di situ. Sehari setelah peristiwa tersebut, sudah terlihat beberapa pekerja mulai membongkar susunan conblock untuk kembali dipasang dengan rapi sehingga tidak turun naik.
Meskipun jalan tersebut sudah dihibahkan dari pengembang kepada Pemkot Bekasi, tapi pihak pengembang tidak tinggal diam begitu saja menunggu jalan jadi semakin rusak. Memang tindakan seperti inilah yang diperlukan warga. Tindakan cepat pengelola kompleks itu memang sudah dilakukannya sejak dahulu terutama yang berhubungan dengan kepentingan umum, dan hal ini patut diberi apresiasi.
Memang tidak bisa membandingkan pengelolaan sebuah kota dengan pengelolaan sebuah kompleks perumahan. Tapi mungkin jika pengelolaan kota kita serahkan kepada para pengelola kompleks perumahan yang tanggap seperti contoh di atas, bisa jadi warga kota akan merasa lebih nyaman ketimbang dikelola oleh para politisi.
Sumber: bloggerbekasi.com
Tgl. posting: Senin, 21 Januari 2013
5/11/13
Pantaskah Anak-anak Diajak Mendukung Raffi Ahmad?
Entah
apa yang ada di benak penyelenggara acara atau pembawa acara Idola
Cilik di salah satu stasiun tv swasta pada Sabtu siang lalu (2/2/2013).
Di tengah acara kontes menyanyi untuk anak-anak kecil itu, dengan
pedenya si Okky Lukman, host
acara tersebut yang berdiri di panggung menghadap juri dan penonton
yang sebagian anak-anak kecil, mengajak para hadirin untuk mendoakan
Raffi Ahmad yang sedang terkena musibah. “Semoga kak Raffi diberi yang
terbaik. I love you kak Raffi!” begitu teriak Okky sembari memasang
tampang serius.
Raffi
Ahmad memang sempat menjadi salah satu juri di acara tersebut. Okky
Lukman pun mungkin juga bersahabat dekat dengan dia. Tapi ketika Raffi
sudah terbukti terlibat masalah narkoba, seharusnya tidaklah perlu
penonton apalagi anak-anak kecil di acara tersebut, untuk diajak memberi
dukungan kepada seorang yang terindikasi dengan narkoba. Bagaimana jika
anak-anak itu ketika besar nanti berpikir bahwa bergaul dengan narkoba
bukanlah sebuah kesalahan. “Buktinya si artis “x” itu masih mendapat
dukungan dari banyak orang…” begitu pikir mereka nanti.
Keesokan
harinya masih di stasiun tv yang sama. Di hari Minggu pagi, di
tengah-tengah acara Dahsyat, di mana Raffi Ahmad juga sebagai salah satu
pembawa acaranya, kembali mereka mengajak penonton untuk memberi
dukungan kepada Raffi Ahmad. Ditayangkan gambar-gambar ketika pemuda 26
tahun itu masih aktif sebagai host
Dahsyat. Di sini malah Raffi diperlakukan seolah-olah sudah tiada.
Kasihan dia dibuat seperti “in-memoriam”. Para produser acara tv yang
memakai Raffi Ahmad sepertinya tidak mau menanggung kesalahan karena
pilihannya itu. Mereka sudah sampai tahap berlebihan, lebay, dalam menyikapi kasus artisnya.
Memang
dukungan secara pribadi diperlukan bagi si artis yang tersandung
masalah hukum, agar tetap tegar menghadapi permasalahannya, apalagi jika
dukungan tersebut diberikan oleh sesama artis, itu sah-sah saja. Tapi
bukan berarti dukungan tersebut juga “diwajibkan” bagi para penggemar
atau penonton acara yang tadinya digawangi oleh si artis. Seharusnya
mereka juga melihat penontonnya yang kebanyakan adalah anak-anak dan
remaja, tidak sepatutnya meracuni mereka dengan dukungan yang salah
alamat itu. Kalaupun Raffi Ahmad dijebak, janganlah “menjebak” anak-anak
hingga menganggap narkoba itu hal yang biasa. Kasihan generasi muda
kita, di benak mereka mana yang benar dan salah menjadi bias.
Di
republik ini, bukan cuma hukuman negara saja yang kurang keras terhadap
orang-orang yang terlibat narkoba, tapi hukuman atau sanksi sosial yang
diterima juga ternyata kurang membuat jera pelaku yang lain. Apalagi
ada media masa yang ikut mendukungnya, bukannya memberi sedikit ganjaran
agar dapat menjadi pelajaran bagi para pemirsanya.
sumber: kompasiana
tgl posting: 03 February 2013 | 23:35
Subscribe to:
Posts (Atom)







