1/11/16

Budi Anduk Jadi Cawapres

May 13, '09 4:55 AM 


Pengaruh media memang dahsyat, baru selentingan aja udah bikin heboh banyak pihak. Itu tuh, perkara SBY rencana mau menjadikan Gubernur BI Boediono jadi cawapresnya. Media juga yang mengarahkan agar ada opini agak keras dari empat partai yang akan berkoalisi dengan Partai Demokrat. Para pembawa acara talk show selalu memberi pertanyaan yang memancing kekecewaan mereka, padahal mungkin sebelumnya mereka tidak kecewa. Dengan begitu acaranya jadi seru dan teuteup ditonton banyak orang, kan?

Hebatnya, tak hanya empat partai pengikut Demokrat saja yang kepancing isu ini. Mahasiswa dan ormas pemuda juga sudah kena "permainan" ini. Mereka berbondong-bondong demo ke istana, dan tak lupa menyebar spanduk di mana-mana. Salah satunya yang terpampang di jalan Tendean dari arah Mampang menuju Blok M atau menuju jalan Wolter Monginsidi (lihat gambar).

"Say NO to BudioNO, Say YES to Budi Anduk"





















Hehehe, jadi... gimana kalo Budi Anduk aja jadi cawapresnya, setuju nggak? 


* tulisan ini (diambil dari benwal.multiply.com yg sudah tiada) dibuat bulan Mei 2009 ketika menjelang penentuan siapa bakal calon presiden dan wakil presiden untuk bertarung di pilpres 2009 yg akhirnya dimenangkan SBY - Budiono. 
* tulisan ini dipilih untuk diposting ulang di sini untuk mengenang Budi Anduk yang berpulang pada tgl 11 Januari 2016 pada usia 47 tahun, selamat jalan Budi Prihatin...

9/22/15

Apakah Mengurangi Uang Kembalian Merupakan (Cikal-Bakal) Korupsi?

Sejak maraknya masalah korupsi, saya jadi mulai memperhatikan uang kembalian yang sampai ke tangan kita jika belanja di mana saja. Meski ibunda sudah sering mengeluhkan kecurangan itu ketika ia belanja di sebuah supermarket terkenal berlogo kepala orang. Tapi waktu itu saya menanggapinya biasa saja.

Kepedulian saya dimulai ketika berbelanja di sebuah gerai donat Amerika yang sangat terkenal dan ada di mana-mana itu. Ketika membayar dan menerima kembalian, ternyata uangnya kurang Rp100. Saya memang tidak protes waktu itu, krn saya pikir kejadian ini mungkin tidak sering terjadi.

Ternyata dugaan situ salah, ketika beli lagi di tempat yg sama (di sebuah rumah sakit besar di Jakarta Barat) lagi-lagi saya menemukan kembalian yang kurang Rp100. Bahkan saat itu si kasir yang merangkap pelayannya berusaha mengacaukan hitungan dengan meminta uang kecil ke kita dengan tujuan untuk ngepasin kembaliannya (atau untuk makin membuat kita kacau menghitungnya?). “Bapak ada uang seribu?” begitu biasanya para kasir itu menanyakan ke kita jika kita memberi uang bernilai agak besar sehingga mereka harus sesuai mengembalikannya.

Ketiga kali saya kembali berbelanja di toko donat yang sama namun beda lokasi gerai, dan ternyata lagi-lagi kurang Rp100, hanya bedanya si mbak yg melayani bilang bahwa kembalinya kurang seratus. Karena ia jujur bilang begitu, membuat saya menunda niatan untuk mempertanyakannya.

Berarti terhitung sudah 3 kali saya belanja di gerai donat tersebut dengan kembalian kurang 100 perak. Sejak itu saya jadi makin memperhatikan setiap uang kembalian yang sampai di tangan. Ternyata itu terjadi juga ketika saya makan mie di sebuah resto franchise di sebuah mall di Blok-M. Uang kembalian kurang 100 perak lebih malah (tapi ga sampai 200). Ya, sebulan kemarin sudah 4 kali setiap menerima uang kembalian selalu dikurangi Rp 100,- di tiga tempat yg berbeda.

Puncaknya adalah ketika istri saya akhirnya bertransaksi di gerai donat di rumah sakit di awal sy cerita di atas.
“Lho, mbak, memang kembalinya berapa?” tanya istri kepada si penjual donat. “Maaf bu, kembalinya kurang 100,” jawab si pelayan merangkap kasir itu.
“Kalo gitu tolong ditulis deh di struknya kalo kembalinya kurang, karena saya berkali-kali belanja di sini selalu kembalinya kurang seratus!” sahut istri ssambil menyodorkan struk agar si mbak menulis di situ.
“Oh, kalo gitu ini bu kembaliannya...” kata si kasir sambil tangannya mengambil uang Rp 100 dari laci kasir dan lalu memberikannya kepada istri saya.
Nah lho...! Berarti sebenarnya dia punya kembalian seratus peraknya, tetapi selalu saja dengan sengaja tidak diberikan kepada konsumen!

Seminggu setelah kejadian istri, saya akhirnya coba2 lagi beli di gerai donat yang sama yang berlokasi di sebuah mall di Bekasi. Seperti yg sudah saya kira, kembalian kurang 100 rupiah, dan si mbaknya sepertinya memang benar-benar tidak punya uang 100, karena ketika saya memintanya untuk menulis di struk dilakukannya juga.

Sebenarnya bukan nilai uangnya sih, tapi jika hal kecil itu terus-menerus dilakukan, bukankah itu akan menjadi cikal-bakal korupsi yang lebih besar? Coba kita lihat diri sendiri sebelum berkoar-koar anti korupsi, apakah kita pernah melakukannya tanpa kita sadari atau justru dilakukan dengan sistematis seperti pegawai di gerai donat itu?


(9 Desember 2009 - benwal.multiply.com) 

5/12/15

Ngopi di Museum


Kegiatan minum kopi, atau secara singkat disebut ‘ngopi’, biasanya dilakukan di kedai kopi, kafe, warung kopi, atau bahkan restoran. Istilah ngopi pun di beberapa tempat tak harus berarti minum kopi. Ada yang mengartikan dengan ‘ngumpul-ngumpul sambil ngobrol-ngobrol’ dan belum tentu minum kopi. Itupun biasanya ngumpul di rumah, sekolah, kampus, pos ronda, bahkan di depan gang atau tikungan jalan.

Di sebuah museum yang terletak di wilayah Gantong di pulau Belitung, kita ternyata dapat leluasa melakukan aktivitas ngopi ini, di sanalah terletak museum kata pertama di Indonesia yang bernama “Museum Kata Andrea Hirata”. Museum ini didirikan oleh penulis best seller Indonesia Andrea Hirata, yang novel Laskar Pelangi-nya berhasil membuat dirinya berada di jajaran penulis papan atas negeri ini.

Bagian depan dan dalam Museum Kata

Informasi tentang bagaimana dan apa saja yang ada di museum tersebut dapat dengan mudah kita temukan di dunia maya, juga sudah banyak diulas di berbagai artikel ataupun blog. Pihak museum pun juga memiliki situs atau blog resmi http://www.museumkataandreahirata.com/ bagi Anda yang ingin tahu tentang museum ini.

Jika Anda sudah terlanjur di pulau Belitung, tak terlalu sulit untuk mencari museum ini. Rasanya hampir semua orang, terutama Belitung Timur, tahu akan keberadaan Museum Kata. Dari bandar udara (satu-satunya di Belitung) H.A.S. Hanandjoeddin menuju museum ini kira-kira menempuh waktu antara satu setengah hingga dua jam berkendara dengan kondisi jalan yang bagus dan mulus hampir tak ada lubang.

Bagian dapur yg jadi Kupi Kuli
Lalu, kegiatan ngopi yang mana yang dapat dilakukan di Museum Kata? Minum-minuman kopi atau yang sekadar ngumpul-ngumpul ngobrol? Ya dua-duanya. Karena memang sepertinya Andrea berniat untuk menjadikan museumnya tak sekadar tempat memajang karya-karyanya saja, tetapi di situ juga sering diadakan diskusi maupun acara obrolan santai berbagi kisah dan pengalaman sang penulis. 

Untuk kegiatan minum kopinya ada di bagian belakang museum yang dulunya rumah tinggal itu. Seperti biasa sebuah rumah selalu memiliki dapur, dan itulah yang dijadikan tempat ngopi yang dinamakan “Warkop Kupi Kuli”. Di ruang itu kesan tempo doeloe sengaja dipertahankan, mulai dari dinding kayu, meja dan bangku panjang, radio kuno, hingga tungku dan peralatan masak yang serba kuno khas dapur tradisional Melayu.

ngopi dulu aah...
Tujuan dibuat warung kopi “Kupi Kuli” ini untuk mengenang dan melestarikan suasana zaman dahulu, ketika pulau Belitung masih didominasi para buruh (kuli) tambang timah. Mereka biasanya selalu mampir di warkop untuk minum kopi sebelum mereka mulai bekerja sebagai kuli tambang, itulah mengapa dinamakan “Kupi Kuli”.

Namun sepertinya pengelola museum “salah” menempatkan warkop di bagian belakang. Kopi Belitung yang terkenal enak itu akan membuat pengunjung yang membeli kopi di Kupi Kuli menjadi lupa akan apa yang sudah dilihat selama di museum. Seperti penulis yang sempat merasakan nikmat aroma dan rasa kopinya, sehingga yang diingat pada waktu itu hanyalah momen ketika Ngopi di Museum, tak ingat yang lain, hehe... [b\w]

1/7/15

Roy Marten Pantas Dapat Piala Oscar


19 November 2007 (benwal.multiply.com)

Kita semua sudah tahu, Roy Marten tertangkap untuk ke dua kalinya ketika sedang berpesta sabu di sebuah hotel di Surabaya. Ironisnya, ia melakukannya setelah pulang dari acara kampanye anti narkoba yang digelar di Graha Pena Surabaya, yang dihadiri Kapolri dan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).

Berita tentang artis yang ke-gep (baca: tertangkap) lagi mungkin bukanlah sesuatu yang baru. Selain Roy Marten, sebelumnya ada pelawak Polo yang juga untuk kedua kalinya tertangkap basah sedang nyabu, dan saat ini sudah keluar dari bui.

Tertangkapnya aktor ngetop tahun 70-80-an itu menjadi istimewa karena kesaksiannya di acara kampanye anti narkoba tersebut. Roy sempat memohon Kapolri untuk membedakan perlakuan antara pemakai dan pengedar. Jika melihat kejadian setelahnya, tak heran ia mengusulkan hal itu. “Tak ada prestasi apa pun yang bisa dicapai dengan narkoba, tak ada...!” ujarnya ketika diwawancara JTV.

Memang benar, tak ada prestasi apa pun yang bisa dicapai dengan narkoba. Namun aktor bernama asli Wicaksono Abdul Salam ini justru membuat prestasi tersendiri dalam karir pribadinya sebagai pemain watak andal. Perannya sebagai mantan pengguna narkoba insyaf yang membenci narkoba sungguh cemerlang. Tak kurang dari kepala kepolisian negeri ini terpana dengan kemampuan aktingnya yang hebat. Jika ada penghargaan tertinggi dunia untuk aktor terbaik, Roy Marten berhak mendapatkannya.

Sayang, penghargaan perfilman dunia sekelas Oscar tidak memiliki klasifikasi untuk aktor yang menggunakan kemampuan aktingnya untuk kehidupan nyata. Jika ada, sudah jelas pialanya akan disabet aktor kelahiran Salatiga ini.

Atau mungkin ada Ironic Award, yaitu semacam penghargaan untuk kejadian paling ironis? Lagi-lagi Roy Marten yang pasti akan mendapatkannya. Apalagi jika waktu tertangkap ia mengenakan kaos bertuliskan anti narkoba seperti di atas. Roy Marten, Anda memang ‘hebat’!

9/18/14

Belanja di Pasar Tradisional atau Pasar Modern?

 
 *tulisan ini dibuat/dimuat pada 15 September 2008 di benwal.multiply.com (alm.)
 
Udah lihat iklan barunya Gerindra-nya Prabowo Subianto? Sebagai ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) ia menyarankan rakyat Indonesia untuk belanja di pasar tradisional karena lebih murah dan lebih dapat membantu kesejahteraan rakyat kecil pedagang di pasar tersebut.

Saya langsung ingat ibu saya yang pernah mengeluh betapa harga di pasar tradisional ternyata tak lebih murah dibanding harga di supermarket yang relatif stabil. “Pernah mau beli daging di pasar (tradisional) harganya sekitar Rp 25 ribu per kilo, padahal di He** (supermarket dekat rumah – red.) masih Rp 12 ribu,” keluhnya.

“Belum lagi sekarang marak isu daging bekas hotel dan restoran yang diolah kembali, dan di jual di pasar tradisional. Sebelumnya malah ada isu daging yang sapinya di “glonggong” (dicekokin air sampai badanya membengkak – sadis! – sehingga dagingnya lebih berat padahal karena penuh air – red.) sebelum disembelih. Ada juga daging kedaluwarsa yang sudah biru-biru, dikasih formalin sama disiramin darah segar biar masih bisa dijual karena kelihatannya masih segar,” tambah ibunda dengan wajah kecewa penuh keprihatinan.

Benar juga ya, semua rekayasa tersebut jarang bisa menembus supermarket. Pasar tradisional menjadi ajang penjualan paling aman karena cenderung bebas tanpa pengawasan. Paling-paling baru didatangi pejabat terkait jika menjelang Lebaran seperti sekarang ini. Lihatlah bagaimana rekayasa penjualan makanan marak terjadi di sana, mulai dari daging sapi yang dicampur daging celeng atau tikus, hingga beras atau gula yang diberi pemutih.

Kembali ke iklannya si oom
Prabowo Subianto. Poin kedua mungkin benar, dengan kita berbelanja di pasar tradisional akan dapat lebih memberdayakan pedagang di sana yang memang dari kalangan rakyat kebanyakan.

Poin pertama bahwa harga di pasar tradisional lebih murah sepertinya tidak tepat, karena nyatanya harga di pasar modern (supermarket) lebih stabil dibanding di tradisional. Jika pun harga di pasar tradisional lebih murah tetapi ternyata bermasalah, seperti daging yang diberi formalin, atau dulu juga marak isu penjualan
ayam “tiren” yang artinya: mati kemaren alias sudah bangkai.

Jadi, mau belanja di mana???

8/12/14

Apa Tujuan Hidup Anda?





5 September 2008

"Apa tujuan hidup Anda?" Jika pertanyaan itu keluar dari mulut orang tua kita, atau keluarga, guru/dosen, senior, atau boss kita, tentu tidaklah aneh. Tapi jika pertanyaan ini keluar dari seorang dokter ahli penyakit dalam ketika kita menjadi pasiennya, apa nggak cukup mengagetkan...?

Seumur hidup baru sekali ini berobat ke dokter yang ‘ngobrolnya’ justru bukan tentang kesehatan, tapi lebih banyak ngebahas masalah spiritual. Dia bilang bahwa di dunia ini ada yang lebih penting daripada masalah psikis, yaitu spiritual. Dari situlah pak dokter separuh baya itu mulai membahas tentang apa arti hidup.

Ketika kami coba memberi jawaban bahwa tujuan hidup kita guna mencapai kebahagiaan, dia balas dengan pertanyaan “Kalau ternyata tidak bahagia bagaimana? Nanti malah stress....!”  lalu ia menambahkan lagi, “Contohnya banyak orang ketika akan berumah tangga tujuannya karena ingin punya anak, tapi ketika Tuhan nggak kasih, mereka jadi saling menyalahkan dan malah stress, akhirnya bubar.” Bener juga sih... lalu apa sebenarnya tujuan hidup kita?

“Kita hidup ini tujuannya hanya satu, yaitu menjadi budak/abdi yang baik dari Tuhan Sang Maha Kuasa, Maha Pencipta!” tegas pak dokter. “Kalo semua kita serahkan kepada Tuhan, berbuat sesuatu demi Tuhan, jika ada kegagalan atau tidak mencapai tujuan, kita tidak akan menyesali diri atau stress, karena itu semua memang sudah kehendak-Nya,” tambahnya.

Benar juga ya. Jadi hidup kita ini bukan diatur oleh deadline, oleh target penjualan, oleh boss yang selalu ketakutan, atau oleh klien yang sok tau, tapi kita bekerja, berjalan, bercinta karena Tuhan. Kalo orang bilang “nawaitu”-nya musti jelas kepada siapa. Ya kepada Tuhan...

“Jadi kalo sakit, kita pasrahkan saja ke Tuhan tetapi sambil tetap berusaha. Saya sebagai dokter hanya perantara saja. Jika sembuh berarti kehendak Tuhan, jika tidak sembuh berarti memang sudah takdir Tuhan,” ujar dokter itu dengan bijak. “Berarti semua harus ikhlas ya, dok...” seru saya dengan lagak sok pintar. “Ikhlas itu hanya caranya saja, tapi tujuan utamanya tetap mengabdi kepada Tuhan,” jawab dokter internis itu sambil menulis resep.

Nah, ternyata kami baru saja dapat bonus dari Tuhan. Periksa ke dokter tidak hanya menjadi sembuh atau sehat secara fisik, tapi juga bertemu abdi setia-Nya yang sangat memberi pencerahan bathin sehingga kesehatan spiritual kami menjadi bugar. [b\w]

BACA JUGA

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...